Rabu, 14 Juli 2010

PENTINGNYA POLA HIDUP SEHAT

Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat,
di dalam jiwa yang kuat terdapat pemikiran yang jernih,
di dalam pemikiran yang jernih terdapat tindakan-tindakan yang positif
dan dengan tindakan yang positif akan membuat diri kita lebih maju.

Pepatah latin, men sana incorpore sano, kiranya tepat mengawali tulisan ini. Di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat menjadi suatu sarana untuk mengukur kesehatan tubuh pada manusia. Kesehatan adalah kebutuhan setiap manusia. Tubuh normal manusia sudah memiliki daya tahan yang baik karena berfungsi untuk menghindari bakteri yang tidak cocok untuk tubuh. Menurut salah seorang pakar mikrobiologi: “Ada tiga faktor yang mempengaruhi kesehatan tubuh manusia yaitu hospes (manusia), agent (bakteri), dan environment (lingkungan). Kesehatan tubuh manusia tercipta ketika ketiga faktor tersebut seimbang. Seandainya saja salah satu dari ketiga faktor tersebut tidak lengkap atau salah satunya mengalami kerusakan, tubuh manusia akan mengalami sakit.

Betapa rapuhnya tubuh manusia sehingga berbagai usaha mesti dilakukan untuk tetap menjaga kesehatannya. Kesadaran akan arti penting dari kesehatan berarti mencerminkan kehendak akan adanya kecintaan terhadap tubuh. Kecintaan yang dimaksudkan adalah mau merawat, menjaga, serta menyayangi tubuh yang telah diberikan oleh Tuhan. Hal ini akan terlihat jelas melalui perawatan kesehatan yang terus terjaga. Seringkali, orang baru menyadari arti kesehatan ketika sedang mengalami sakit. Kesibukan sehari-hari sering kali membuat kita mudah untuk melupakan betapa pentingnya arti kesehatan. Memang, kesehatan bukanlah segala-galanya, tetapi kita perlu juga menyadari bahwa segala-galanya menjadi tidak akan berarti lagi jika tubuh kita tidak sehat.

Yang menjadi persoalan saat-saat ini adalah adanya begitu banyak orang yang mengalami sakit? Atas persoalan dasar tersebut, saya mencoba mengerucutkannya dalam kehidupan para imam. Pertanyaan dasar yang coba saya angkat adalah mengapa banyak imam yang sakit. Dalam tulisan ini, saya ingin berbagi pengalaman, omong-omong tentang kesehatan para imam (rohaniwan/wati). Pertanyaan tersebut tidak bermaksud menolak atau menghindari realitas sakit yang dapat dialami oleh siapapun. Namun, saya mencoba menggagas dan memberi informasi atas pertanyaan dasar mengapa banyak imam kita yang sakit.

Mengapa banyak imam kita yang sakit ?

Ada umat bertanya kepada salah seorang imam, “Apakah ada syarat tes kesehatan yang harus dipenuhi oleh seorang calon imam sebelum ia diterima di Seminari Menengah?” “Tentu saja ada”, jawab imam itu. Pertanyaan tersebut rupanya lahir dari suatu kegelisahan atau fenomena atas lemahnya kesehatan para imam sekarang ini. Tidak jarang kita mendengar berita bahwa salah seorang imam kita masuk rumah sakit entah sakit ringan maupun berat. Memang, kita tidak dapat memungkiri bahwa penyakit dapat menyerang siapapun, kapanpun, dan dimanapun, termasuk para imam. Para imam toh juga seorang manusia.

Apabila kita lihat secara mendalam, kehidupan para imam tidak jauh berbeda dengan dinamika hidup umat pada umumnya. Para imam hidup dari umat. Keberlangsungan hidupnya tergantung pada umat. Seperti yang kita ketahui bahwa umat ingin memberikan yang terbaik bagi gembalanya misalnya dalam hal makanan yang disajikan kepada para imam. Menu-menu yang tersaji adalah menu-menu istimewa. Selain itu, perhatian umat terhadap kesehatan para imam atau gembalanya pun begitu besar. Dalam paroki saya sekarang ini (Paroki Pekalongan), ada kelompok ibu-ibu yang sungguh memperhatikan kesehatan para imamnya, entah dengan mengontrol makanan, menyediakan tenaga medis khusus bagi imam, dsb. Tetapi mengapa banyak imam kita yang sakit?

Saya akan menjawabnya dengan mengelompokkannya dalam beberapa point, sejauh pengenalan saya. Pertama, lemahnya pola hidup sehat. Omong-omong soal kesehatan tidak pernah lepas dari si empunya tubuh itu sendiri. Artinya, kesehatan menjadi tanggungjawab setiap pribadi. Setiap pribadi mestinya memiliki pengertian, pemahaman yang lebih terhadap tubuhnya sendiri. Kelemahan yang selama ini menjadi gejala atau indikasi dari munculnya penyakit adalah pola makan yang kurang seimbang dan gaya hidup. Penyakit satu orang imam tidak bisa digeneralisir untuk semua penyakit yang diderita oleh imam yang lain. Karya pelayanan para imam terkadang menguras waktu dan tenaga. Saking sibuknya, seorang imam bisa sampai lupa makan, kurang istirahat dan kurang berolahraga. Hal ini bisa menyurutkan daya tahan tubuh yang berperan sebagai modal utama kesehatan tubuh. Oleh karena itu, lemahnya daya tahan tubuh dapat disebabkan oleh perilaku yang salah terutama pola makan yang tidak teratur, malas olah raga, gila dalam karya (terlalu berlebihan dalam karya pelayanan sampai melalaikan kesehatan diri), dan berbagai perilaku buruk lainnya.

Kedua, Kesibukan para imam yang menguras daya tahan tubuhnya. Para imam disibukkan dengan berbagai pekerjaan. Kesibukan dalam karya tanpa memperhatikan jeda atau istirahat mampu melemahkan daya tahan tubuh seseorang. Selain itu, daya tahan tubuh yang lemah juga dibarengi dengan faktor-faktor internal yang lain seperti emosi yang labil, mudah marah, mudah stres, dsb. Kedua hal tersebut sangat berpengaruh bagi kesehatan seseorang, dalam hal ini imam.

Mengubah paradigma tentang hidup sehat

Dalam kesempatan pertemuan imam balita, Minggu, 31 Agustus 2008 yang lalu, dalam tema “Revitalisasi Our Health, Becoming Doctor Ourselves dilontarkan pertanyaan, Sehatkah Anda hari ini?[2] Ada beberapa point yang menjadi gambaran ideal agar kesehatan tetap terjaga, antara lain dengan keterbebasan dari stres dan depresi, olah raga secara teratur, membatasi makanan-makanan yang berlemak, istirahat yang cukup, serta pengaturan berat badan dengan baik. Keteraturan dan kesetiaan dalam membangun hidup sehat adalah kunci yang bisa kita pegang untuk tetap menjaga kesehatan tubuh.

Persoalan mengenai banyak imam kita yang sakit mengundang kita semua untuk berani menentukan langkah, bukan semata-mata pencegahan tetapi mulai sedari dini dengan membangun kebiasaan untuk hidup sehat. Kebiasaan-kebiasaan membangun hidup sehat dapat dilihat dalam contoh seperti ini: seorang imam memiliki waktu khusus untuk berolahraga, entah bulu tangkis, tenis, jalan kaki, renang dll. Seorang imam meluangkan waktu untuk istirahat secara teratur, mengkonsumsi makanan secara baik dan teratur. Kita dapat belajar juga dari sekumpulan ibu-ibu di paroki saya yang rutin mengadakan senam pagi setelah misa. Mereka memiliki mimpi tentang hidup sehat. Olahraga bukan sebagai pencegahan atas suatu penyakit, tetapi sarana bantu atau jalan untuk hidup sehat.

Oleh karena itu, setiap orang hendaknya menjadi dokter bagi dirinya sendiri. Ia menjadi proaktif dalam menjaga kesehatan tubuhnya sendiri. Seorang yang proaktif tidak menunggu sakit untuk diobati.

Akhirnya saya tidak ingin membuat kesimpulan atas berbagai sharing di atas. Namun, suatu realita bahwa ada begitu banyak orang yang sakit, tidak hanya imam, adalah ada pada soal penataan diri, pembangunan ritme hidup yang baik. Walau bagaimanapun juga hidup sehat merupakan suatu pilihan…..!!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar